Minggu, 29 Mei 2011

pembangunan Saluran Udara Tegangan Tinggi

PT PLN (Persero) Unit Induk Pem-bangunan Jaringan Sulawesi, Maluku, dan Papua, mulai menggarap pembangunan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) hingga 2014 nanti. General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Jaringan Sulawesi,Maluku, dan Papua Setiyadi Dewantono mengatakan, dua proyek tersebut adalah pembangunan jaringan SUTT 150 kV. Bentangannya dari Kabupaten Sengkang-Siwa-Palopo. Kemudian, dilanjutkan dengan pembangun jaringan SUTT 150 kV. Dari Kecamatan Wotu di Kabupaten Luwu Timur-Lasusua- Kolaka-Unaaha-Kendari. “Khusus untuk proyek pertama, anggarannya dari APBN sebanyak RpRp1,7 triliun. Mulai dari tahun 2011 sampai 2014 nanti dengan total anggaran Rp6,4 triliun dengan sistem multi years,”katanya.

Dia mengatakan, proyek tersebut adalah bagian dari interkoneksi jaringan listrik Sulawesi. Kemudian, dilanjutkan dengan jalur SUTT 150 kV mulai dari Kendari ke Raha Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). “Rencana realisasi pembangunan jalur tersebut akan dipercepat, jika anggarannya telah disetujui,” paparnya. Namun untuk proyek itu menggunakan dana internal yang berasal dari Anggaran Perusahaan Listrik Negara (APLN). Estimasi kebutuhan anggarannya sebesar Rp3,5 triliun.“Rencananya realisasi pembangunan jalur ini akan kami percepat, jika dana dari APLN yang dibutuhkan juga bisa secepatnya cair,”jelasnya.

Selain membangun tiga jaringan SUTT, PLN berencana membangun jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) berkekuatan 275 kV dengan jalur Kecamatan Wotu- Asera-Unaaha-Antam. “Tapi ini baru wacana. Kalau sudah dirapatkan,dan disetujui baru akan kita tentukan kapan pembangunannya dimulai dan kapan bisa selesai, termasuk rencana anggaran yang dibutuhkan,” katanya. Jalur ini dibangun untuk mengadakan interkoneksi jaringan listrik di seluruh Sulawesi. Karena bila jaringan-jaringan itu sudah terhubung kata dia,maka akan mempermudah untuk membangun sebuah pembangkit listrik,dimana pun di wilayah Sulawesi.

“Tapi masalah terbesar dari proyek ini adalah lahan,”ujarnya. Menurutnya, proyek-proyek tersebut banyak melewati hutan lindung. Pihaknya berharap, Kementerian Kehutanan bisa mempercepat izin. “Agar semua proses pembangunan interkoneksi bisa kita selesaikan juga dengan cepat,” paparnya. Hingga saat ini, interkoneksi jaringan di wilayah Sulawesi sudah mencapai 70%. Tinggal interkoneksi jaringan antara Gorontalo dan Palu dengan jarak kurang lebih 400 Km.“Untuk Sulsel dan Sulbar sendiri saat ini sudah terinterkoneksi secara penuh, dimana proyek interkoneksi ini sudah dimulai sejak 1985 lalu,dan dilakukan secara bertahap,”tandasnya.

Dia mengatakan,untuk proyek pembangunan SUTT dan SUTET yang akan dibangun ini, kemungkinan besar baru bisa terinterkoneksi secara penuh pada 2018 mendatang. “Kami prediksi, tahun 2018 interkoneksi Sulawesi sudah terealisasi. Demikian catatan online Beni yang berjudul pembangunan Saluran Udara Tegangan Tinggi.

0 komentar:

 
 
Copyright © Beni 2011 All Rights Reserved hariagustomonugroho@