Jumat, 08 Oktober 2010

Banjir Bandang Ancam Makassar

Cuaca ekstrim masih akan terus melanda Sulsel hingga awal tahun depan. Bahkan,pada puncaknya yang diperkirakan Desember hingga Januari 2011,Makassar terancam dilanda banjir besar.


“Diperkirakan,musim hujan ini masih akan panjang. Kalau mencapai puncaknya Makassar terancam banjir,” kata Kepala Bidang Pelayanan Jasa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar Sujarwo,kemarin. Sebagaimana diketahui,di beberapa wilayah Makassar masih menjadi langganan banjir setiap tahun. Ancaman bencana banjir besar ini semakin diperkuat dengan tingginya curah hujan. Menurut Sujarwo,guyuran hujan yang sebagian besar akan melanda bagian Utara Sulsel terjadi pada siang dan sore hari dengan intensitas tinggi,meski waktunya singkat. “Singkat, tapi deras,” kata Sujarwo.

Khusus awal hingga pertengahan Oktober ini,kata Sujarwo,selain hujan yang patut diwaspadai adalah angin kencang dan petir.Menurutnya, cuaca ekstrim yang terjadi sejak awal bulan lalu ini, yang secara umum terjadi di Indonesia, dipengaruhi faktor La Nina. La Nina yang berdampak hingga ke Susel ini disebabkan uap air dari Samudera Pasifik sehingga terjadi perubahan cuaca ekstrim. “Musim hujan ini datang lebih cepat dari biasanya.Waktu kemarau, juga kemarau basah itu karena pengaruh La Nina,” kata Sujarwo. Dia mengatakan, hampir seluruh wilayah Sulsel terkena dampak perubahan cuaca ekstrim ini, tetapi yang paling harus berwaspada adalah di daerah bagian Utara,termasuk Makassar.

Pada puncak hujan yang akan terjadi akhir tahun ini hingga awal tahun depan curah hujan bisa di atas 500 milimeter. Kondisi inilah yang bisa memicu terjadinya banjir dan tanah longsor. “Harus tetap waspada,” kata Sujarwo. Selain Makassar, guyuran hujan secara sporadis terjadi, seperti di Kabupaten Gowa, Bulukumba, Sinjai,Bone,Soppeng,Palopo, Luwu, dan Tana Toraja. Bahkan, di beberapa daerah, kondisi angin yang berembus cukup kencang Seperti nelayan di tiga kabupaten, yakni Selayar,Bulukumba, Bantaeng dalam sepekan terakhir enggan melaut akibat cuaca yang kurang bersahabat di perairan sekitar daerah itu.

Pemandangan kapal-kapal yang ditambatkan di dermaga terlihat di beberapa pelabuhan rakyat dan dermaga di pesisir pantai akibat cuaca buruk yang tidak menentu.“ Cuaca sekarang tidak menentu. Terkadang tiba-tiba hujan meski langit terlihat cerah, dan kadangkala juga angin kencang tiba-tiba berhembus, makanya kami tidak berani melaut,” kata Ketua Serikat Nelayan Bulukumba (SNB) Oni,kemarin. Tak hanya angin, hujan juga mengguyur tiga wilayah itu.Di Bulukumba, ruas jalan tergenang serta terganggunya proses belajar mengajar siswa di SMA 1 Gangking,Kecamatan Gantarang.

Sinjai-Bone

Hingga kemarin, hujan masih mengguyur dua kabupaten bertetangga, Sinjai dan Bone.Hujan disertai petir bahkan sudah mengakibatkan banjir dan luapan sungai yang menelan dua korban jiwa dan satu korban masih belum ditemukan. Informasi yang diperoleh Badan Komunikasi dan Informatika (Bakominfo) Sinjai dari Badan Metereologi dan Geofisika, ketinggian gelombang di sekitar Sinjai mencapai 0,5-1,6 meter. “Anomali cuaca di mana naiknya permukaan air laut sehingga menyebabkan hujan masih terus terjadi di Indonesia,” ungkap Kabid Postel Bakominfo Sinjai Lukman, kemarin. Di Kabupaten Bone, sebagian wilayah sejak pagi hingga siang kemarin masih diguyur hujan dengan intensitas sedang.

Hujan masih terjadi di beberapa daerah rawan banjir, seperti Kecamatan Dua Boccoe, Ajangale dan Tellu Limpoe. Sejak lima bulan terakhir,banjir masih terjadi di daerah itu akibat luapan Sungai Walanae yang berbatasan dengan Kabupaten Wajo. Cuaca ekstrim akhir-akhir ini membuat pemerintah melakukan antisipasi. Kasubag Humas Pemkot Palopo Siti Hatidja mengatakan, pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mewaspadai terjadinya bencana. “Terlebih lagi Kota Palopo yang sangat rawan terjadi bencana banjir,”ujar Hatidja,kemarin. Pantauan SINDO, cuaca ekstrim mulai terjadi sekitar akhir September lalu.

Bahkan pada awal Oktober lalu, insiden angin kencang mengakibatkan puluhan rumah di Palopo rusak.Belum lagi bencana banjir yang melanda Kabupaten Luwu dan Luwu Utara pekan lalu. Terkait angin dan gelombang di perairan sekitar Luwu, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Palopo menilai masih dalam batas normal. DKP belum mengeluarkan larangan berlayar baik bagi nelayan maupun pada kapalkapal barang dan penumpang yang berlabuh di Pelabuhan Tanjung Ringgit. Kepala DKP Palopo Ilyas Mallewa mengatakan, pihaknya masih terus memantau perkembangan cuaca di Kota Palopo yang menurutnya saat ini masih dalam kondisi aman. Sementara di Luwu Timur, dilaporkan, intensitas hujan dalam skala tinggi terjadi dalam sepekan terakhir. Hujan terjadi umumnya di malam hari disertai angin kencang dan petir.

AS Sampaikan Keprihatinan

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Rodham Clinton menyampaikan keprihatinan terhadap banjir Wasior yang menewaskan 91 orang.”Atas nama rakyat Amerika Serikat, kami menyampaikan simpati mendalam terhadap kerusakan dan jatuhnya korban jiwa akibat banjir dan longsor di Indonesia bagian timur, terutama di Provinsi Papua Barat,” kata Hillary dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri di Washington, Rabu. Banjir bandang pada Senin pagi (4/10) terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah Kota Wasior,Kabupaten Teluk Wondama, sejak Minggu sebelumnya.

Banyaknya korban meninggal karena tenggelam dan terseret arus yang juga membawa kayu gelondongan serta bebatuan dari telaga di atas gunung. Pemerintah telah memutuskan memberlakukan masa tanggap darurat selama 14 hari guna memusatkan berbagai upaya bagi penyelamatan nyawa para korban banjir. Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah Velix Wanggai menjelaskan bahwa Dandim Manokwari Letkol E Sitourus ditunjuk sebagai Accident Commander dalam tahap penyelamatan untuk mencari korban jiwa dan pembersihan lingkungan fisik Kota Waisor. Tugas tersebut memprioritaskan prioritas pembersihan bandar udara, puskesmas, dan sekolah, serta perawatan para korban yang luka berat, sedang, dan ringan.

“Dengan kondisi ini pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten mulai melakukan langkah pemulihan darurat, relokasi penduduk, ke beberapa titik wilayah yang dianggap aman dan identifikasi untuk rekonstruksi dan rehabilitasi,” ujar Velix kepada SINDO tadi malam. Alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini mengungkapkan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Rabu kemarin telah mengirimkan bantuan. “Bantuan sebanyak 31 ton berupa bahan makanan,pakaian, dan selimut.Bantuan Presiden ini dibawa oleh dua pesawat Hercules yang mendarat di Manokwari,” ujar Putra Papua ini.

Adapun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengirimkan tiga tenda peleton, 80 tenda keluarga, 200 lembar tenda gulung, 60 tempat tidur darurat, 500 paket pakaian, 150 paket perlengkapan bayi dan anak, 100 lembar tikar, 2.250 paket makanan siap saji, dan 2.500 kg obat-obatan dari Kementerian Kesehatan ke berbagai lokasi penanggulangan bencana. Banjir bandang melumpuhkan Wasior secara total sehingga pencarian dan bantuan bagi para korban dilakukan melalui jalur laut.Akses terhadap wilayah tersebut melalui jalur transportasi darat dan udara terputus, demikian pula dengan saluran komunikasi dan pasokan listrik ke lokasi bencana.

Selain korban meninggal, Sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Daerah Papua Barat La Abidin mengungkapkan, hingga kemarin terdapat 82 orang yang dirujuk ke rumah sakit dengan menggunakan helikopter. PMI sendiri saat ini fokus memberikan pelayanan kesehatan,evakuasi korban tertimbun longsor,serta melakukan pendataan di tempat pengungsian. “Saat ini kebutuhan mendesak di lokasi bencana adalah sarung tangan tebal, kantong jenazah, dan masker untuk mengangkat jenazah dari timbunan longsor yang mulai rusak kondisi tubuhnya,” kata La Abidin.

Dia menambahkan,saat ini juga dibutuhkan segera air minum,selimut, sepatu bot, gergaji mesin, serta kendaraan roda dua dan empat untuk mengangkut logistik. Dugaan sementara, banjir bandang terjadi akibat illegal loggingdan turunnya daya dukung lingkungan. Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan Hadi Daryanto mengatakan, perambahan hutan untuk perkantoran dan perumahan pemerintah daerah menyebabkan daya dukung lingkungan Cagar Alam Wondoboi di Wasior merosot dan menyebabkan banjir bandang. Apalagi Wasior itu tepat berada di bawah kawasan Cagar Alam Wondoboi yang memiliki dua danau. Sementara itu, perluasan kantor dan perumahan pemerintah daerah berada persis di bawah cagar alam itu.

Selain dua danau, di wilayah itu juga ada dua sungai yang meluap ke Teluk Wondama, yaitu Sungai Wasior dan Sungai Dusner. Hadi mengakui bahwa di kawasan itu terdapat dua hak pengusahaan hutan di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, yakni PT Wapoga Mutiara Timber seluas 178.000 hektare dan PT Dharma Mukti Persada yang sudah tidak aktif.

0 komentar:

 
 
Copyright © Beni 2011 All Rights Reserved hariagustomonugroho@