Sumber otoritatif di Mabes Polri saat dimintai konfirmasi masih memberikan keterangan berbeda satu sama lain.Penasihat Kapolri Kastorius Sinaga bersikukuh bahwa Kapolri tidak menghadiri sertijab karena sakit akibat kelelahan. Menurut dia,mantan Kapolda Sumatera Utara itu membutuhkan istirahat satu hingga dua hari. ”Setelah sahur beliau tidak enak badan,mual, dan pusing,gara-gara itulah beliau (Kapolri) tidak bisa sertijab di Mabes Polri. Beliau butuh istirahat total,” jelasnya kepada harian Seputar Indonesia (SI)kemarin.
Sementara itu,Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Edward Aritonang tetap menegaskan, Kapolri tidak bisa menghadiri sertijab karena tugas di luar terkait dengan pengamanan pemilihan kepala daerah (pilkada),puasa,dan Lebaran. Namun,Edward yang mengaku mendapat informasi langsung dari Kapolri tidak bersedia mengungkapkan di mana dan dengan siapa mantan Kabareskrim itu melakukan koordinasi pengamanan. ”Tidak semua bisa dijabarkan, tugas negara kan bermacam-macam,” ucapnya.
Pengamat kepolisian dari Universitas Indonesia (UI) Bambang Widodo Umar menilai ketidakhadiran Kapolri dalam acara sertijab perwira tinggi Polri tidak lazim. Menurut dia, dalam konteks kesatuan, tidak seharusnya pimpinan kepolisian meninggalkan satuannya tanpa memberikan mandat kepada wakilnya untuk menjalankan tugasnya.
Karena itu dia menganggap wajar jika ketidakjelasan posisi Kapolri memicu pertanyaan dan spekulasi. Menurut Bambang,sudah menjadi kebiasaan dalam sebuah institusi, kegiatan pimpinan teragendakan dengan baik. Kalaupun sedang berhalangan hingga tidak dapat melantik para perwira, semestinya mantan Kapolda Kalimantan Selatan itu memberikan tugasnya kepada Wakapolri.
“Kalau Wakapolri berhalangan, bisa juga memberikan mandat ke Irwasum,” katanya. Ditanya apakah sikap Kapolri terkait sorotan publik terhadap lembaga kepolisian seperti kesimpangsiuran adanya rekaman percakapan Ade Raharja dan Ary Muladi dan soal dugaan rekening gendut perwira tinggi Polri, Bambang tidak mau berspekulasi.“Saya tidak tahu, tapi jadinya hal ini (ketidakhadiran Kapolri) menyebabkan timbulnya interpretasi yang macam- macam,”ujarnya.
Anggota Komisi III DPR Rindoko Wahono Wingit menyatakan bahwa seharusnya kesimpangsiuran tentang keberadaan Kapolri tidak terjadi karena memicu pertanyaan di masyarakat tentang apa sebenarnya yang terjadi di tubuh kepolisian.“Saya ingin Kapolri terbuka soal ini,”kata anggota Fraksi Partai Gerindra itu kepada SI kemarin. Dia juga menilai lumrah seandainya ada yang menduga orang nomor satu di kepolisian itu tidak bisa menghadiri sertijab terkait persoalan proses pengangkatan para perwira.
Misalnya, kemungkinan adanya anggota Polri yang tidak memenuhi syarat untuk diangkat. “Terlepas dari berbagai spekulasi itu, sangat mungkin adanya tarikmenarik kepentingan di dalam institusi kepolisian menjelang berakhirnya masa jabatan Kapolri,’’ katanya. Diberitakan sebelumnya, keberadaan Kapolri menjadi tekateki karena tidak hadir dalam sertijab perwira tinggi Polri (13/8).
Berdasarkan Kep Kapolri No KEP/479/VIII/2010 tertanggal 5 Agustus, perwira yang termasuk dalam sertijab adalah Deputi Operasi Kapolri dari Irjen Pol S Wenas kepada Irjen Pol Soenarko dan Kadiv Humas Polri dari Irjen Pol Edward Aritonang kepada Brigjen Pol Iskandar Hasan. Kemudian Kadiv Binkum Polri dari Irjen Pol Bahrodin Haiti kepada Brigjen Pol Mudji Waluyo, Kadiv Telematika Polri dari Irjen Pol Yudi Sus Hariyanto kepada Brigjen Pol Robert Aritonang,dan Delog Mabes Polri dari Irjen Pol Joko Sardono kepada Irjen Pol Yudi Sus Hariyanto.
Informasi awal yang disampaikan pihak Mabes Polri menyebutkan Kapolri tidak hadir karena mendadak dipanggil Presiden SBY. Persoalan muncul ketika kalangan Istana Kepresidenan membantah Kapolri ada di Istana Presiden. Bantahan disampaikan Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha dan Menkopolkam Djoko Suyanto. Informasi keberadaan Kapolri semakin simpang siur ketika pihak Mabes Polri memberikan keterangan bertabrakan satu sama lain.
Wakadiv Humas Mabes Kombes Pol I Ketut Untung Yoga Ana menyatakan bahwa perwira kelahiran Bogor 10 Oktober 1952 itu tidak jadi menghadiri sertijab karena tengah mengikuti rapat dengan Presiden SBY.Sementara Edward Aritonang menyebut Kapolri sedang tugas luar dan Kastorius mengatakan Kapolri kelelahan. Kastorius yang bersikeras dengan keterangannya mengaku telah menghubungi Kapolri kemarin pagi (14/8) sekitar pukul 09.40 WIB untuk menanyakan perkembangan kesehatan Kapolri.
”Beliau mengatakan kondisi kesehatannya jauh lebih baik, insya Allah hari Senin (16/8) sudah bisa bertugas kembali dan melaksanakan sertijab yang sempat tertunda pada Jumat lalu,”katanya. Dikonfirmasi mengenai keterangan Edward, staf pengajar di FISIP Universitas Indonesia itu menduga yang bersangkutan memberi keterangan normatif mengingat banyaknya pertanyaan yang muncul.
Menurutnya, pernyataan Humas Mabes Polri bertujuan agar masyarakat tidak memunculkan interpretasi yang berlebihan. Dikatakannya,jika seorang pejabat publik seperti presiden, Kapolri dikatakan sakit dikhawatirkan akan muncul interpretasi lain, misalnya sakit koma atau yang lainnya.”Nahini saya kira perlu diluruskan juga.Tadi pagi Kapolri juga mengatakan kepada saya, siapa pun bisa sakit,masa sakit bisa ditahan,” katanya.
Kapolri, lanjutnya, sengaja tidak memberitahukan dirinya sakit karena khawatir justru tidak bisa istirahat. ”Kalau nanti dikatakan sakit, nanti malah tidak bisa istirahat, padahal beliau butuh istirahat,”terangnya. Lebih jauh dia mengungkapkan bahwa Kapolri menyadari ketidakhadirannya pada sertijab menimbulkan respons yang sangat besar dari masyarakat dan akan menyikapinya secara hati-hati.
Yang jelas, lanjut Kastorius, adik kandung mantan Pangdam I Bukit Barisan Tritantomo itu membantah tidak hadir karena penculikan,ancaman teroris, dan pencopotan. ”Pesan beliau mohon itu tidak dikembangkan ke mana-mana karena tidak benar.Kami tidak mau menyesatkan publik,”terangnya. Edward saat dikonfrontasikan dengan penjelasan Kastorius mengaku tidak mengetahui dari mana sumber informasinya.
”Yang benar saya, gak tahu mereka dapat sumber dari mana. Saya menjelaskan apa yang saya dapatkan,”tegasnya. Pengganti Alex Bambang Riatmodjo sebagai Kapolda Jawa Tengah itu lantas menandaskan, polisi juga manusia yang memiliki beban tugas sangat berat sehingga banyak perencanaan yang tertunda seperti sertijab yang terjadi kemarin. Untuk meluruskan spekulasi, dia akan meminta kesediaan Kapolri memberikan penjelasan kepada media dan masyarakat.
”Tidak benar perwira yang akan mengikuti sertijab dibatalkan. Nanti Senin (16/8) saat sertijab, saya coba meminta beliau menjelaskan kepada kawan-kawan,”jelasnya. Sementara itu, dari pantauan SI, rumah kediaman Kapolri Jalan Pattimura No 37 Jakarta Selatan, tampak sepi. Sejumlah anggota provos yang ditemui enggan memberikan keterangan terkait dengan keberadaan pengganti Sutanto tersebut.
Minggu, 15 Agustus 2010
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar